Sabtu, 17/11/2018, 18:28:13
Eksperimen Berujung Bahaya, Bagaimana Solusi Tuntasnya?
Oleh: Novita Fauziyah, S. Pd

SUNGGUH sangat menghebohkan, kasus penyimpangan perilaku kembali terjadi pada generasi kita di era milenial. Beberapa waktu terakhir terkuak fenomena remaja yang mabuk air rebusan pembalut. Fenomena ini terjadi pada remaja-remaja di Jawa Tengah, Jawa Barat dan juga Jakarta. Meski ini bukan yang pertama, namun beberapa tahun terakhir marak terjadi khususnya di Jawa Tengah.

Alasan remaja yang rata-rata berusia 13-16 pelaku mabuk air rebusan, bisa dibilang cukup klise yaitu bereksperimen untuk mendapatkan sensasi yang mirip dengan narkoba. Namun eksperimen mereka itu justru membahayakan. Efeknya bisa lebih parah karena ternyata pembalut yang digunakan sebagai bahan tidak hanya yang baru, tapi juga bekas. Ada yang rela mengais di tempat sampah demi mendapatkan pembalut bekas sebagai bahan nge-fly.

Kondisi ekonomi juga ternyata menjadi pemicu remaja-remaja tersebut melakukan ini. Hal ini disampaikan oleh Komisioner KPAI bidang kesehatan dan napza pada Kamis (8/11/2018). Dikutip dari news.detik.com, dirinya menuturkan dorongan ekonomi hingga hasil pencarian internet membuat remaja ini makin 'kreatif' meramu racikan baru. Sayangnya, kreativitas itu berujung bahaya.

Ahli kimia farmasi dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Drs Mufti Djusnir, MSi, Apt menyebutkan terdapat dua zat yang terkandung dalam pembalut yakni zat penyerap air dan antiseptik atau chlorine yang juga bersifat antimikroba (www.republika.co.id). Beliau menuturkan bahwa reaksi zat yang terkandung dalam pembalut itu menyebabkan penyalaguna menjadi pusing, yang dianggap nge-fly. Padahal pusing karena keracunan.

Ada apa dengan generasi kita? Apa penyebab mereka bisa berlaku demikian? Tak hentinya menggelengkan kepala mendengar kasus penyimpangan perilaku melanda remaja. Efek yang mereka rasakan dari minum air rebusan pembalut berupa nge-fly dianggap merupakan kebahagiaan tersendiri.

Berawal dari eksperimen namun lama kelamaan menjadi kecanduan. Kesalahpahaman mengenai hakikat bahagia inilah yang menjadi faktor penyebab mereka nekad dan tidak menghiraukan bahayanya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa di dalam pembalut bekas juga banyak bakteri.

Sebagai generasi Islam, semestinya mereka memahami bahwa kebahagiaan hakiki adalah ketika mereka bisa taat menjalankan aturan dari Sang Pencipta. Karenanya taat akan membawa kebahagiaan dan ketika menyimpang (maksiat) akan berujung pada kesengsaraan. Keimanan dan ketakwaan individu berperan penting dalam menentukan bagaimana kualitas generasi. Maka sudah seharusnya keimanan dan ketakwaan mesti ditingkatkan.

Selain masalah keimanan dan ketakwaan, faktor lain yang ikut berpengaruh adalah masyarakat di lingkungan sekitar. Dari kasus yang ditemukan di Jawa Tengah, penyalahguna adalah anak jalanan. Kepedulian masyarakat menjadi poin penting. Maka peran masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sesama sangat dibutuhkan agar perilaku masyarakat tidak menyimpang, apalagi menyimpang dari aturan Sang Pencipta.

Media di sekitar kehidupan remaja juga sangat berpengaruh. Remaja yang menjadi korban paparan media digital harus menanggung resiko efek media digital. Perlahan tapi pasti, paparan informasi yang merusak terus membius remaja. Mereka bisa dengan bebasnya berselancar di dunia maya untuk mendapatkan informasi dan meniru apa saja yang dicontohkan, meski itu berbahaya.

Maka dalam hal ini negara sangat berperan penting bagaimana konten media bisa difilter agar penetrasi nilai-nilai kebebesan dapat dicegah. Tidak hanya itu, lini lain selain media juga menjadi tanggung jawab negara. Aturan hukum yang diberlakukan, sistem pendidikan, ekonomi dan sebagainya yang ada di pusaran kehidupan remaja harus diperhatikan agar dapat membawa kepada keberkahan, bukan bahaya dan kerusakan.

Maka dengan adanya peran serta individu, masyarakat sampai level negara masalah perilaku menyimpang remaja akan tuntas terseleseikan.

(Novita Fauziyah adalah seorang pendidik generasi, tinggal di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita