Senin, 22/10/2018, 10:28:13
Partisipasi Politik Generasi Milenial
Oleh Wahyu Syaefulloh

Iklim politik Tahun 2019 bisa kita rasakan beberapa akhir-akhir ini, dari bulan-bulan terakhir banyak skema-skema elit politik untuk memikat hati masyarakat. Gairah ini juga dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat dalam menjunjung pesta demokrasi yang di nantikan oleh pejuang-pejuang politik dalam rangka memperbaiki kehidupan masyarakat.

Ada sesuatu yang unik pada tahun 2019 , banyak pakar politik menyebutkan akan didominasi generasi milenial. Mengutip dari beberapa sumber pemilih pemula mencapai kisaran 14 juta dari total 196, 5 juta atau sekitar 7,4%. (wartakota 16/4). Direktur (Perludem) Titi Anggraeni menyebutkan pemilih muda lebih dari 50% jika di kategorisasi hingga 35 tahun maka jumlahnya 79 juta, tetapi jika sampai 40 tahun jumlahnya mencapai 100 juta (Kontan 15/08).

Dalam teori generasi yang dikembangkan oleh syahreza (2017) ada 6 generasi, yaitu generasi traditionalist yang lahir pada tahun (1928-1945), yang kedua yang terkenal dengan baby boomer generasi yang lahir pada masa (1946-1964), yang ketiga generasi X yang lahir pada tahun (1965-1976), yang ke empat yaitu generasi milenial atau generasi Y yang tercatat lahir pada (1977-1998), yang ke lima generasi Z yang lahir pada (1999-2012) yang terakhir generasi alpha ynag terlahir (2013-2025). Melihat kondisi ini bisa kita simpulkan bahwa pagelaran pesta demokrasi di tahun depan didominasi oleh generasi X dan generasi Y yang sebagai data dominan yang melek politik, dilihat dari tahun lahir mrnurut teori generasi.

Generasi milenial dalam cultur and religion in asia Sam Han dan Kamaludeen Mohamed Nasir menyebutkan dalam prefrensi politik mereka lebih rasional, mempertimbangkan rasio, logika dan mempunyai keluasaan mengakses informasi secara mandiri, seperti melalui dunia maya untuk menentukan pilihan politiknya.

Bisa kita contohkan menangnya Barack Obama atas Mc.cain pada tahun 2008, pendekatan yang dilakukan Barack Obama dengan menggunakan jejaring sosial seperti facebook, twitter yang memang digandrungi oleh generasi Y (generasi milenial).

Syahreza (2017) generasi X pada tahun 2019 berumur antara 43 s/d 59 merupakan peralihan kepemimpinan politik, dan diprediksi mendominasi di elit politik. Generasi milenial pada pada pemilu 2019 berumur antara 21 s/d 42 berada pada barisan pemuda yang di dominasi oleh mahasiswa dan pelajar jika di korelasikan dengan pemilihan umum pada tahun 2019 generasi milenial menjadi pemilih terbanyak pada pesta demokrasi tersebut.

Permasalahannya, generasi Y atau generasi milenial kurang tertarik dalam pembahasan-pembahasan yang sifatnya berbau politik, sebagai contoh mahasiswa dan pelajar tidak banyak mahasiswa yang mengkaji terkait tentang pendidikan politik, karena disisi lain melihat kondisi atau fenomena yang ada,.

Melihat secara empiris banyak praktek-praktek politik yang mengedepankan penggerakan masa atau penggiringan opini, dengan cara-cara pemanfaatan media seperti membangun image atau yang dikenal dengan penciteraan. Ini menjadi titik kejenuhan komunal generasi milenial dalam berpartisipasi dalam perjuangan politik.

Perlu adanya revolusi dalam prosesi politik yang diharapkan lebih mengedepankan kepentingan khalayak umum, ada nilai substansi dari proses politik bukan sekedar pemenangan kekuasaan. Di negara demokrasi memiliki jaminan konstitusional sebagai warga negara yang memiliki hak politik dan hak membela negara. Seperti yang di kemukakan oleh robert dahl (1971) adanya hak memberikan suara,disini melihat adanya sebuah penghargaan tersendiri pada hak asasi manusia.

Berdasrkan UU no 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 23 “setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya” ada kerugian yang cukup besar jika sebagai warga negara tidak berperan aktif dalam partisipasi politik.

Karena negara sudah menjamin, membiayai, dan memfasilitasi segala kebutuhan masyarakat dalam kegiatan politik sebagai manifestasi upaya memperbaiki keadaan bangsa. Keadilan adalah sebuah cita-cita, dengan aktif dalam kegiatan politik adalah perjuangan. Perjuangan politik adalah keadilan.

(Penulis adalah kahasiswa Manajemen Universitas Peradaban Bumiayu (UPB), Kabid PTKP HMI Cabang Tegal)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita