Sabtu, 29/09/2018, 07:24:41
Antara Efikasi Politik dan Tudingan Politik Praktis
Oleh: Wahyu Syaefulloh

Gerakan mahasiswa menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini, di puluhan kota indonesia terjadi beberapa aksi demonstrasi mahasiswa yang mencengangkan seluruh publik. Bentuk aksi sebagai simbol kepedulian mahasiswa terhadap keadaan masyarakat yang belum mendekati dari amanat konstitusi.

Hal ini menjadi kewajiban mahasiswa yang tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Tidak banyak pula yang menganggap bahwa gerakan ini sebagai aksi kepentingan politik. Jika gerakan mahasiswa dianggap menjadi kepentingan politik kondisinya sama seperti para pendahulu mahasiswa-mahasiswa dalam merebut kekuasaan rezim penjajah yang dianggap sebagai pemberontak.

Ada kepanikan pemerintah bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi partai politik. Memang peran partai politik sangatlah penting karena melalui partai politik memunculkan banyak pemimpin-pemimpin bangsa atau negarawan-negarawan yang menjadi tumpuan oleh masyarakat nantinya. Kehadiran partai politik sebagai kendaraan calon-calon pemimpin dari pilkada, pileg sampai pilpres yang nantinya memberikan kebijakan-kebijakan dan berdampak signifikan terhadap berlangsungnya kehidupan bangsa.

Sebagai harta terakhir mahasiswa adalah idealisme yang memiliki komitmen dan wadah untuk membentuk sebuah gerakan independen sebagai mediasi efikasi politik yang sering disebut dengan organisasi mahasiswa, ada BEM, dan organisasi mahasiswa ekternal seperti HMI, GMNI, PMII, KAMI, GMKI dan l ain-lain. Mengingat mahasiswa dituntut untuk menjaga independensi bahkan dari regulasi yang diturunkan oleh Dirjen DIKTI SK No. 26 tahun 2002 yang melarang partai politik ada di lingkungan kampus, bahkan regulasi keluarga mahasiswa tidak ada satu pun AD/ART organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan partai politik. Peran mahasiswa sebagai control social menjadi kewajiban mahasiswa menagih janji, demonstrasi sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kinerja pemerintah. Dan demonstrasi menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan bernegara, hal ini merupakan manifestasi dari kekuatan rakyat untuk rakyat.

Tetapi masih banyak yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi tetapi menolak untuk dikritisi, seperti persekusi terhadap mahasiswa, pembunuhan karakter terhadap mahasiswa, sikap represif terhadap mahasiswa ini bukan cermin dari pemikiran yang menjunjung tinggi nilai demokrasi.

Dalam sejarah gerakan mahasiswa muncul dalam beberapa fase, fase pra kemerdekaan yang di motori oleh mahasiswa STOVIA dengan mendirikan Boedi Oetomo (1908) sebagai wadah perjuangan masyarakat dalam menata kemerdakaan. Dua puluh tahun munculah gerakan pemuda dan mahasiswa tahun (1928) yang melahirkan sumpah pemuda, gerakan ini mengilhami masyarakat untuk bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Angkatan mahasiswa tahun 1945 yang ditandai dengan lahirnya kemerdekaan, (1966) munculah aliansi Mahasiswa yang sering disebut KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menolak rezim orde lama, (1974) Malari menetang orde baru hingga (1998) menuntut presisen soeharto untuk mundur dari jabatanya. Ini bentuk konkrit gerakan mahasiswa dalam merubah tatanan yang dikehendaki masyarakat.

Sejarah mencatat kepanikan pemerintah dalam menghalau aksi gerakan mahasiswa dengan memberikan presseur terhadap aktifitas mahasiswa, seperti Normalisasi kehidupan Kampus (NKK) 1978 pembubaran Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa (DEMA), setahun kemudian mengeluarkan Badan Kordinasi Kemahasiswaan, (BKK) yang berhasil membekukan organisasi mahasiswa didalam kampus. Tidak heran jika tindakan represif terhadap mahasiswa membumi hingga sekarang, karena mahasiswa dianggap sebagai ancaman yang memiliki jiwa yang murni dalam bergerak dan keobyektifan. Seperti yang dikemukakan oleh bung Hatta (1966) hanya pemuda yang sanggup mengubah tatanan sosial yang membungkus ketidakadilan, karena pemuda masih murni jiwanya dan ingin melihat pelaksanaan kebijakan pemerintah secara jujur seperti yang telah dijanjikan pada rakyat; yang dipahami adalah pemuda memiliki jiwa yang murni, karena pemuda belum memiliki rutinitas dan pemikiran seperti orang tua, yang sudah dibenturkan dengan kompleksitas kehidupan.

Mahasiswa yang dikenal sebagai kalangan akademis yang berfikir ilmiah, bertindak sistematis, memiliki analisis dengan keobyektivitasanya yang dibentuk oleh lingkungan pendidikan tinggi.

Dari gerakan-gerakan ini ada dampak yang meberikan sikap refresif dari setiap rezim seperti dipenjara, dihilangkan, bahkan dilenyapkan. Kasus terdekat yang menimpa mahasiswa terjadi di medan kurang lebih ada sekitar 6 mahasiswa yang menjadi korban pemukulan, dilansir dari (tribunmedan.com) Surya Darma dari Fakultas Ekonomi USU, kepala memar. Amirun Salim dari Fakiltas Farmasi UMN, memar kepala. Fitra Lufti Azmi dari Fakultas Teknik USU, kepala luka robek. Putra Afridadi dari Fakiltas Ekonomi UMSU, luka kepala memar dan wajah memar. Salim Abdulrahman dari Fakiltas Syariah UINSU, luka kepala memar, luka pd pipi dan kepala blkng bengkak. Ari dari Fakultas Teknik USU, luka kepala, rusuk, kaki kiri, masih banyak kasus-kasus lain yang melakukan tindakan refresif terhadap mahasiswa.

Hakikatnyan sikap ini tidak dibenarkan dalam hukum di Indonesia, karena setiap warga negara dijamin undang-undang untuk memberikan hak konstitusinya sebagai warga negara yang diatur dalam UUD 1945 pasal 28 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.

Semoga demokrasi di Indonesia semakin dewasa, dalam menerima kritik dan menjaga kepentingan rakyat sebagai upaya efikasi politik yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alenia ke 4 “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,”

(Wahyu Syaefulloh adalah mahasiswa jurusan Managemen Universitas Peradaban (Kabid PTKP HMI Cabang Tegal)


Tulisan dalam Kolom Opini ini adalah kiriman dari masyarakat. Segala tulisan bukan tanggung jawab Redaksi PanturaNews, tapi tanggung jawab penulisnya.

 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita