POLITIK" merupakan sebuah perilaku atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan kebijakan-kebijakan dalam tatanan Negara agar…" />
Jumat, 06/07/2018, 00:23:44
Moralitas Politik Tanpa Mahar
Oleh: Aizul Istiqomah

"POLITIK" merupakan sebuah perilaku atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan kebijakan-kebijakan dalam tatanan Negara agar dapat merealisasikan cita-cita Negara sesungguhnya, sehingga mampu membangun dan membentuk Negara sesuai rules agar kebahagian bersama di dalam masyarakat Negara tersebut lebih mudah tercapai. Namun dalam prakteknya masih banyak terjadi distorsi (penyimpangan) yang dilakukan oleh beberapa politisi yang mencederai proses demokrasi.

Tahun ini dan tahun depan merupakan tahun politik, dalam situasi dan kondisi seperti ini masyarakat dihadapkan dengan beberapa pilihan yang agaknya harus menguras energi dan pikiran dalam menghadapi kontestasi pemilu yang semakin hari semakin memanas dengan dinamika yang terjadi.

Partisipasi masyarakat dalam kontestasi pemilu sangat diharapkan, karena ini adalah pesta demokrasi, sebagai masyarakat yang menginginkan cita-cita perubahan maka sudah seharusnya memilih pemimpin yang visioner dan revolusioner.

Kasus yang sedang hangat diperbincangkan publik saat ini adalah banyaknya pasangan calon tunggal dalam pilkada serentak yaitu ada 16 calon tunggal yang ikut menyemarakkan kontestasi pilkada serentak tahun ini, dan kasus yang tak kalah membuat publik heran adalah  kemenangan kotak kosong dalam terjadi di Makassar.

Ini merupakan kritik sekaligus tamparan terhadap partai politik karena mesin partai tidak berjalan secara optimal, sistem dan kaderisasi partai politik harus ditelaah kembali guna mencari simpul kesalahan yang membuat publik akhirnya memilih kotak kosong.

Agaknya moralitas politik dewasa ini sedang diterpa badai yang kencang, publik (masyarakat) sudah semakin cerdas dalam berdemokrasi dengan menentukan pilihan yang tepat, namun dalam kasus kemenangan kotak kosong ini ada hal menarik yang harus kita telaah kritis, mahar politik masih menjadi modal utama dalam kontestasi pilkada.

Tak dapat dipungkiri bahwa partai membutuhkan cost operasional yang tinggi untuk memenangkan calon yang diusungnya, melalui mahar politik juga calon yang berkontestasi dalam pemilu dapat memborong semua partai untuk berkoalisi, alhasil bagi pasangan calon lain yang ingin berpartisipasi dalam pilkada serentakpun harus gigit jari, karena mayoritas partai sudah diborong untuk satu pasangan calon. Sangat kecil kemungkinan bisa menang tanpa menumpang kendaraan partai politik. Namun bukan berarti dengan hanya ada 1 pasangan calon saja bisa menang mutlak, ini terbukti di pemilihan wali kota Makassar, kotak kosong lebih unggul suaranya.

Ini merupakan resistensi masyarakat melalui kotak kosong. Masyarakat memiliki kesadaran kritis yang semakin fundamental. Masyarakat sudah tidak bisa ditipu dengan mudah melalui berbagai janji-janji manis yang menyebabkan diabetes politik.. Hak suara adalah harga diri yang tidak bisa dibeli apalagi ditawar dengan murah.

Figur pasangan calon dan track recordnya merupakan landasan masyarakat dalam menentukan pilihan, bukan memilih dengan indikator banyaknya partai politik yang mengusung dan berkoalisi untuk memenangkan pasangan calon koalisi partai  yang ada. Proses pendewasaan dalam berdemokrasi perlu, karena itu merupakan faktor yang membentuk pemilih yang berdaulat dan berefek pada tatanan demokrasi dan Negara yang sehat.

(Aizul Istiqomah adalah Mahasiswa Universitas Perdaban Bumiayu (UPB) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita