Minggu, 15/04/2018, 05:23:21
Arkeolog Perancis Lakukan Penelitian di Bumiayu
LAPORAN ZAENAL MUTTAQIEN

Peneliti dari Arkenas dan Perancis saat meneliti batu Lingga di kawasa Candi Pangkuan Cilibur (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Peneliti dari Arkeologi Nasional Agustianto Indra Jaya dan peneliti dari Pusat Kebudayaan Perancis EFEO - Lembaga Prancis yang meneliti kebudayaan untuk Asia Timur, Veronigue Blood melakukan penelitian arkeologi ke Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Minggu 15 April 2018.

Penelitian dilakukan di beberapa tempat adanya sisa-sisa peninggalan benda arkeologi diantaranya batu belah di Dukuh Pungkuran dan Dukuh Karangjati Desa Kaierang, Batu Jara di Desa Laren, Batu Wali di Desa Jatisawit Kecamatan Bumiayu dan Batu Lingga di Candi Pangkuan Dukuh Karanggandul Desa Cilibur Kecamatan Paguyangan serta lokasi lainnya.

Sebelum mendatangi tempat-tembut peninggalan benda-benda arkeologi tersebut kedua peneliti berkunjung ke Museum Purbakala Situs Bumiayu Tonjong (Buton) di Komplek Bumi Sari Ayu Bumiayu. Selanjutnya bersama pengelola Museum Buton, H Rafli Rizal dan Karsono mela njutkan penelitian ke beberapa lokasi.

Peneliti Arkenas, Agustianto mengatakan, penelitian dilakukan untuk mengetahui awal masuknya agama Hindu dan Budha ke Indonesia, terutama pulau Jawa bagian tengah. Pasalnya, selama ini Hindu Budha ada di pedalaman Pulau Jawa seperti di Yogyakarta dan sekitarnya.

"Selama ini Hindu dan Budha muncul di pedalaman Jawa, tetapi lupa bahwa itu berawal dari pantai utara," katanya.

Sebelum melakukan penelitian di Bumiayu dan sekitarnya, Arkenas dan EFEO - Lembaga Prancis yang meneliti kebudayaan Asia telah mengkaji referensi yang bersumber dari laporan Belanda dan Balai Arkeologi. Beberapa lokasi di Bumiayu yang dilakukan penelitan ada di dalam referensi tersebut.

"Sebelumnya sudah ada referensi baik dari laporan jaman Belanda juga dari Balai Arkeologi dan dari internet," ungkapnya.

Menurut Agus, dari penelitian yang dilakukan di Bumiayu beberapa penemuan masih bersifat fragmentasi. Tetapi ada yang sangat istimewa dengan adanya batu Lingga yang berukuran cukup besar dengan berat sekitar 40 kilogram.

"Batu Lingga itu cukup istimewa karena ukurannya besar dan perlu penelitian lebih lanjut," ujar Agus.

Dikatakan, Batu Lingga merupakan perwujudan yang menggambarkan Tri Murti yakni Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahmana. Batu Lingga bagian atas berbentuk bunder tanpa sudut perwujudan dari Siwa, kemudian di tengah memiliki delapan sudut menggambarkan Wisnu dan bagian bawah empat sudut menggambarkan Brehmana.

"Batu Lingga itu ada pada abad yang ke tujuh atau sebelumnya dan merupakan tempat upacara atau semacam peribadatan. Biasanya Lingga diletakkan di tengah dan di sekitarnya merupakan candi atau tempat pemujaan," terang Agus.

Dia menambahkan, dari penelitian di beberapa lokasi tersebut tidak menutup kemungkinan akan dapat diperoleh informasi yang lebih banyak lagi dan dapat dilakukan eskavasi atau penggalian.

Kordinator Tim Buton H Rafly Rizal yang mendampingi kedua peneliti tersebut mengatakan, kedatangan dua peneliti nasional dan internasional tersebut semakin membuktikan bahwa Bumiayu memiliki banyak pontensi arkeologi. Selain benda-benda purbakala seperti fosil berusia jutaan tahun juga banyak peninggalan arkeologi kebudayaan kuno.

"Ternyata Bumiayu itu sudah dikenal oleh banyak peneliti dan laporan arkeologi cukup banyak sejak zaman Belanda," katanya.

Diharapkan adanya penelitian tersebut semakin mengungkap kekayaan arkeologi di Bumiayu. Selain itu kebudayaan dan sejarah Bumiayu juga semakin jelas dan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan.




 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita