Rabu, 04/10/2017, 05:52:32
Catatan Jelang Pilwalkot Wawalkot Tegal 2018
Oleh: Roziqien Manshur Al-Makhaly

(Mencermati persiapan revance PDIP) - Pada Pemilihan Walikota/Wakil Walikota (Pilwalkot/Wawalkot) Tegal 2013 lalu, tercatat sebanyak 4 pasangan calon (paslon) yang berebut kursi Walikota dan Wakil Walikota Tegal. Sementara untuk perhelatan Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2018 yang akan datang, sejak dini pihak KPU Kota Tegal -entah dari mana dan bagaimana cara hitung-hitungannya- memprediksi akan diikuti tidak kurang dari 6 paslon.

Adapun 6 paslon yang diramalkan itu terdiri dari 4 paslon dari usungan partai politik (parpol), dan 2 paslon dari calon perseorangan/independen. Proyeksi dini KPU Kota Tegal ini, mungkin boleh jadi dianggap terlalu berlebihan. Namun anggapan demikian dapat ditepis, mengingat pihak KPU Kota Tegal niscaya tidak lupa mempertimbangkan aturan yang berlaku, dan dinamika masyarakat yang berkembang.

Persiapan Revance

Uraian di atas mencoba menggambarkan betapa meriah ajang kontestasi Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2018 nanti. Sementara itu, mungkin ada yang masih ingat, ketika Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2013 lalu, paslon PDIP mengalami kekalahan. Maka dianggap wajar sekali, jika PDIP bersemangat untuk merebut kembali kemenangan dalam Pilwalkot/Wawalkot 2018 yang akan datang.

Harap dicatat, jika pelaksanaan Pilwalkot/Wawalkot Tegal diperkirakan pada Juni 2018 mendatang, maka masih ada waktu 9 bulan lagi dihitung dari sekarang bulan Oktober 2017. Oleh sebab itu, mengingat Kota Tegal termasuk zona PDIP, maka tidak mengherankan jika sejak lama atau paling tidak tercatat Juni 2017 lalu, sudah ada pertanda persiapan revance, yakni "semangat merebut kembali kemenangan".

Hal ini ditandai dengan adanya pencanangan/penegasan dari pihak pejabat struktural partai, Sutari, S.H., M.H selaku Sekretaris DPC PDIP Kota Tegal, yang mengharuskan untuk menggiatkan konsolidasi struktural, memantapkan kader dari tingkatan DPC, PAC, Ranting dan Anak Ranting bergerak dan berjuang memenangkan paslon yang diusung PDIP.

Syarat Minimal

Telah disebutkan di atas, bahwa KPU Tegal memprediksi tentang kemungkinan bakal munculnya 6 paslon yang  berlaga di ajang Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2018 nanti. Salah satunya sudah barang tentu paslon yang diusung oleh PDIP, yang nanti perlu untuk dicermati dalam beberapa catatan, yang memang layak untuk menjadi perhatian.

Hal yang perlu ditegaskan terlebih dahulu adalah dalam hal persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengusung paslon. Patut dicatat, PDIP adalah satu-satunya Parpol yang berhak mengusung sendiri paslonnya karena jumlah kursi PDIP di DPRD Kota Tegal sebanyak 8 orang. Jumlah itu melebihi batas minimal yang dipersyaratkan.

Meski begitu, tentu lebih afdhol lagi jika PDIP membuka pintu untuk berkoalisi dengan parpol lain, dengan harapan upaya pemenangan paslon yang diusung lebih mantap dan menyakinkan. Namun andainyapun tidak, asalkan melalui pertimbangan yang matang, yakin mampu memenangkan paslon sendirian tanpa koalisi, maka itupun tak masalah bagi PDIP. Dalam hal ini, soliditas dan militansi jajaran PDIP tentulah jadi taruhannya.

Rekruitmen Pemimpin

‘The man behind the gun’ merupakan sebuah ungkapan populer yang ingin meyakinkan, betapa kualitas sosok/tokoh menjadi lebih penting dalam meraih suatu keberhasilan dibandingkan faktor yang lain. Persoalannya menjadi mendesak bagi PDIP, jika mengingat kembali kekalahan PDIP yang lalu, sehingga pilihan sosok tokoh calon diharapkan dapat memiliki daya tarik tinggi bagi pemilih, memenuhi unsur popularitas dan elektabilitas, serta kredibilitas, integritas dan kompetensinya.

Dalam hal rekruitmen pemimpin daerah, jika harus mengikuti mekanisme partai, tentu dimulai dari tingkat DPC PDI melalui tahap penjaringan/verifikasi. Hasilnya diteruskan ke pengurus partai tingkat Provinsi/DPD PDIP Provinsi Jawa Tengah, kemudian diteruskan ke tingkat Pusat/DPP PDIP, selanjutnya turun dalam ujud yang disebut ‘rekomendasi’.

Meski sedikit, tentu bisa saja terjadi anomali, dengan tidak mengikuti alur seperti yang telah disebutkan. ‘Rekomendasi’ bisa diterbitkan atau dikeluarkan langsung oleh DPP Partai, sehingga pihak DPD Partai dan DPC Partai terpaksa harus berprakarsa untuk  ‘mengamankannya’.

Sementara itu di sisi lain, fenomena yang berkembang di kehidupan nyata dalam masyarakat, sering juga muncul ‘tokoh’ yang digadang warga untuk dicalonkan. ‘Tokoh’ ini baiknya disebut saja sebagai bakal calon atau disingkat menjadi ‘balon’. Selain itu bagi mereka yang mendaftar, tapi belum sampai tahapan mendapatkan rekomendasi, baiknya boleh juga disebut ‘balon’.

Banyak balon

Adanya banyak balon (bakal calon) Walikota/Wakil Walikota Tegal menjadi pertanda adanya aspirasi yang tumbuh berkembang dalam masyarakat dan keinginan untuk berpartisipasi dalam pemilihan pemimpinnya. Ketua Panitia Penjaringan DPC PDIP Kota Tegal, Sutari, menerangkan bahwa sebanyak 6 balon Walikota/Wakil Walikota Tegal akan mengikuti penjaringan yang diselenggarakan PDIP, dengan rincian 4 mendaftar sebagai balon Walikota, sedangkan 2 lainnya mendaftar sebagai balon Wakil Walikota.

Empat orang yang ikut penjaringan balon Walikota antara lain 1) Edy Suripno, S.H., M.H. (kader internal PDIP/Ketua DPRD Kota Tegal); 2) Ahmad Mulyadi (Purn.TNI); 3) Dedi Yon Supriyono (Anggota DPRD Jawa Tengah/kader Partai Demokrat); 4) Tanti Prasetyo ningrum (Istri Ketua DPRD Kaltim, asli kelahiran Tegal). Sementara 2 nama untuk balon Wakil Walikota yaitu Rosalina Ikmal Jaya (kader internal PDIP/istri mantan Walikota Tegal Ikmal Jaya/ Anggota DPRD Kota Tegal) dan Moh. Ilyas (pengusaha/mantan Kepala Bank Jateng Cabang Tegal).

Dari 6 balon tersebut, 2 balon merupakan kader internal PDIP, sedangkan 4 balon lainnya dari eksternal atau non kader. Itulah penjelasan sekilas yang menggambarkan komposisi balon yang mendaftar pada Panitia Penjaringan DPC PDIP Kota Tegal yang telah melaksanakan tugas verifikasi. Selanjutnya diserahkan kepada DPD PDIP Jawa Tengah untuk diproses lebih lanjut.

Apa Selanjutnya?

Ada pernyataan yang menarik dari Sutari, Ketua Panitia Penjaringan DPC PDIP Kota Tegal, bahwa semua balon yang mendaftar memiliki kedudukan yang sama dan melalui mekanisme yang sama sesuai ketentuan yang berlaku. Namun di lain kesempatan, meski belum turun rekomendasi dari DPP, Sutari menegaskan bahwa PDIP akan mengusung Edy Suripno dan Rosalina Ikmal Jaya sebagai pasangan Walikota dan Wakil Walikota Tegal pada Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2018 nanti.

Edy-Rosa paslon yang ideal yang diusung PDIP. Meski dua pernyataan Sutari terasa kurang sinkron, namun itulah realitas politik yang dapat dimaklumi, sebagai bagian dari persiapan revance PDIP untuk merebut kembali kemenangan dalam pertarungan Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2018 yang akan datang.

Jika benar paslon sudah disepakati, mungkin yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi yang intensif dan masif, mem-branding image paslon sebagai ‘anti thesis’ dari petahana yang bernuansa elitis.

Selanjutnya dirumuskan penjabaran atau pengejawantahannya dalam program operasional yang berorientasi peningkatan kesejahteraan masyarakat, menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas, semangat egalitarian, dekat dengan rakyat dan menjadi pelayan rakyat yang baik.

Kesemuanya itu dimaksudkan untuk membangun kepercayaan masyarakat agar mau mendukung, di sisi lain memudahkan masyarakat menagih janji, jika paslon kok di kemudian hari cidera janji. Amien ya Robbal 'alamien.

(Penulis adalah peminat masalah sosial, budaya, kemasyarakatan dan pecinta Kota Tegal dengan penuh keceriaan)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita