Jumat, 29/09/2017, 08:56:40
Rahmat Yang Tersembunyi
Oleh: Roziqien Manshur Al-Makhaly

Ada ungkapan bijak yang populer "tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta". Sementara itu, kota Tegal sepertinya sudah memiliki faktor-faktor pendukung yang disebutkan/diharapkan oleh ungkapan itu. Salah satunya, kota Tegal terkenal karena posisinya yang strategis.

Kota Tegal berada di tengah bentangan jalan utama yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya. Kota Tegal juga menjadi persimpangan jalur yang menghubungkan kota-kota Jawa Tengah ke bagian selatan, antara lain Purwokerto.

Kota Tegal merupakan tempat awal terbentuknya apa yang kita kenal sebagai korps maritim. Selain itu kita juga dapat menjumpai berbagai bangunan peninggalan Belanda yang memiliki nilai historis tinggi dan menarik untuk dinikmati. Antara lain ada stasiun kereta api yang besar, di latar depannya ada bangunan besar yang sering disebut Gedung Biro, ada tower atau menara air model zaman bahuela dan ada juga bangunan lama yang merupakan Perwakilan BI. Jangan lupa Kota Tegal juga populer dengan berbagai aneka ragam kuliner yang sangat digemari siapapun yang ingin memanjakan lidah dan yang ingin mencicipi berbagai panganan yang menggoda perut.

Bad News is Good News

Keterangan di atas memberikan penjelasan berbagai faktor yang memberikan dukungan tentang arti penting dan strategisnya kota Tegal atau kota yang cukup populer dengan sebutan kota Bahari ini. Seiring perjalanan waktu, silih bergantinya Walikota dan diikuti dengan makin tumbuh-kembangnya kota, tak urung ikut mendongrak kepopuleran kota Tegal.

Syahdan, perihal kepopuleran kota Tegal secara mendadak melesat semakin menjulang tinggi ketika ramai diberitakan media berkaitan dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap Walikota Tegal Siti Mashita yang terjadi pada 29 Agustus 2017 yang lalu. Media begitu gencar memberitakan OTT KPK tersebut, seperti tak ada satupun yang ingin tertinggal berpacu dengan waktu untuk mengekspos peristiwa yang memiliki daya tarik yang tinggi.

Seakan masing-masing media berlomba ingin membuktikan kebenaran ungkapan pendek, singkat, padat, berisi dan bertuah, "bad news is good news". Kira-kira artinya, berita buruk adalah berita bagus. Maksudnya bagus untuk diberitakan secara masif ke seantero negeri.

Persiapan logistik

Kejadian OTT KPK tersebut seperti membuka kotak pandora, berbagai misteri dan informasi yang semula tersimpan menjadi terkuak terbuka. Informasi yang dihimpun dari hasil pemeriksaan KPK menyebutkan bahwa tindak pidana korupsi dilakukan dalam rentang waktu dari Januari sampai dengan akhir Agustus 2017 saat dicokok KPK dan disebut-sebut sudah dapat terkumpul uang sebanyak 5,1 milyar rupiah.

Konon, uang yang terkumpul itu direncanakan untuk persiapan logistik mengikuti ajang kontestasi Pilwalkot/Wawalkot 2018 yang akan datang. Sementara itu dalam sebuah kesempatan, terkait OTT KPK Walikota Tegal Siti Mashita menyampaikan pernyataan bahwa dirinya hanyalah korban dari Amir Mirza Hutagalung.

Amir Mirza Hutagalung adalah seorang politikus yang berkedudukan sebagai Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Brebes. Amir Mirza tercatat sebagai Ketua Timses dari Siti Mashita ketika mencalonkan dari sebagai Walikota pada Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2013, yang pada waktu itu berpasangan dengan HM Nursholeh.

Amir Mirza Hutagulang disebut-sebut sebagai tokoh yang menurut  rencana digadang akan menjadi calon Wakil Walikota mendampingi Siti Mashita pada  saat nanti maju mencalonkan diri menjadi Walikota untuk periode masa bhakti kedua dalam ajang Pilwalkot/ Wawalkot Tegal 2018 yang akan datang. Selama ini Amir Mirza Hutagalung juga disebut-sebut  banyak sekali mempengaruhi kebijakan Walikota Tegal, dan bersama sejumlah orang lainnya yang diduga terkait dengan tindak pidana korupsi, akhirnya terpaksa harus mendekam di tahanan KPK.

Nampak ketidakharmonisan

Peristiwa OTT KPK terhadap Walikota Tegal Siti Mashita merupakan berita yang sangat mengejutkan banyak pihak. Meski konon sudah diperingatkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar menjauhi kecenderungan tindak pidana korupsi. Namun ada sisi lain lagi yang ternyata juga perlu  mendapatkan perhatian yang serius, yakni perihal kondusifitas birokrasi yang menjadi ranah tanggungjawab Siti Mashita sebagai Walikota Tegal.

Setelah pasangan calon Walikota Tegal Siti Mashita dan Wakil Walikota Nursholeh dinyatakan terpilih pada Pilwalkot/ Wawalkot Tegal 2013, kemudian dilantik pada 23 Maret 2014. Alkisah, konon sejak dilantik itulah, tercatat hubungan antara Walikota Tegal Siti Mashita dengan Wakil Walikota Nursholeh nampak kurang harmonis.

Ketidakharmonisan diantara keduanya mengundang perhatian dan tentunya menimbulkan ketidaknyamanan bukan hanya diantara keduanya, tetapi juga di kalangan jajaran birokrasi Pemkot Tegal dan masyarakat kota Tegal pada umumnya. Hal ini sangat disayangkan oleh banyak pihak. Sementara itu, perihal tentang dicokoknya Walikota Tegal Siti Mashita oleh KPK tentunya ditangani KPK sampai  proses hukumnya dinyatakan selesai.

Kondusifitas terganggu

Penyebab ketidakharmonisan antara Walikota Tegal dengan Wakilnya seperti yang telah disebutkan di atas, tidak banyak diketahui oleh umum. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, terdengar kabar selentingan yang berseliweran, penyebab ketidakakuran antara keduanya adalah berhubungan dengan kewajiban dan tanggungjawab yang berkaitan pada saat proses ikhtiar pemenangan keduanya di ajang kontestasi Pilwalkot/ Wawalkot Tegal 2013.

Ini sesuatu yang sangat sensitif dan tidak etis dibicarakan secara terbuka untuk umum.  Ketidakharmonisan itu berlangsung berlarut lama, sehingga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa perlu untuk menghimbau dan mengingatkan agar permasalahan yang terjadi diselesaikan secara kekeluargaan, "yen ono rembug dirembug", dan mengajak keduanya akur kembali demi jalannya Pemkot Tegal lebih optimal lagi.

Dampak dari ketidakharmonisan adalah tumbuhnya atmosfir ketidaknyamanan suasana bekerja, yang berakibat menurunnya performa/kinerja jajaran karyawan dan terpolarisasinya mereka dalam kelompok-kelompok yang sudah barang tentu menyulitkan untuk terbangunnya suasana kerjasama yang kondusif.

Makin memprihatinkan

Dinamika ketidakharmonisan antara Walikota dan Wakilnya makin memanas, seperti yang diungkapkan dalam peribahasa "gajah sama gajah bertempur, pelanduk mati di tengah", dampaknya makin terasa memprihatinkan. Ada sekitar belasan PNS yang dinonjobkan.

Meskipun Mahkamah Agung memutuskan agar PNS yang dinonjobkan dikembalikan lagi ke posisinya, namun rupanya Walikota tetap bergeming. Ada dugaan peran pembisik yang sangat kuat mempengaruhinya, yang menjadikan Walikota bersikukuh pada pendiriannya, sehingga mengakibatkan suasana makin memanas.

Hubungan Walikota dengan Wakilnya juga makin terbawa suasana konflik yang berkepanjangan. Wakil Walikota yang notabene Ketua DPD Partai  Golkar Kota Tegal terdorong menyelesaikan konflik dengan meminta anggota DPRD Kota Tegal dari Partai Golkar mengambil inisiasi pengajuan hak interpelasi untuk menyudahi konflik yang mendera berkepanjangan. Alih-alih inisiatifnya berhasil, malah kedudukannya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Tegal dilengserkan oleh DPP Partai Golkar dengan mengangkat seorang PLT Ketua.

Persiapan menghadapi Pilwalkot/Wawalkot Tegal 2018 untuk periode masa baktinya yang kedua, dilakukan Walikota dengan penuh percaya diri, dibantu orang kepercayaannya, Amir Mirza Hutagalung yang memang digadang mendampinginya sebagai calon Wakil Walikota Tegal yang akan datang. Orang inilah yang disinyalir sebagai pembisik yang besar pengaruhnya dan  sangat didengar saran masukannya oleh Walikota Tegal dalam menjalankan mesin roda pemerintahannya.

Rahmat yang tersembunyi

Rupanya, seperti apapun usaha manusia, namun tetap Tuhan jugalah yang menentukan. Walikota Tegal harus tunduk patuh pada ketentuan taqdir Tuhan, ketika pada akhirnya ia ditangkap oleh satuan tugas dari KPK atas dugaan tindak pidana korupsi. Sementara Wakil Walikota Tegal HM Nursholeh atau akrab disapa kang Nursholeh, yang selama ini -persona non grata- dan dilucuti semua tupoksinya oleh Walikota Tegal, akhirnya pada 31 Agustus 2017 ditetapkan sebagai PLT Walikota Tegal yang kuasa kewenangannya sama dengan Walikota definitif.

Perihal kejadian di atas tentu tak disangka dan diduga sebelumnya. Sungguh dibalik setiap kejadian/bencana sering kali dijumpai hikmah, mungkin berupa karunia/rahmat yang tersembunyi, yang menyeruak hanya jika Tuhan menghendaki. Semoga Allah SWT memberikan jalan yang terbaik bagi umatnya. Amien ya Robbal 'alamien.

(Penulis adalah peminat masalah sosial, budaya, dan keagamaan serta pecinta kota Tegal dengan penuh keceriaan)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita