Minggu, 25/06/2017, 08:44:08
Menyoal Eksistensi dan Esensi Mahasiswa
Oleh: Baqi Maulana Rizqi

Eksistensi dan esensi menjadi hal yang dirasa penting bagi sebagian mahasiswa, ini pun jika persepsi mahasiswa sudah terstruktur dan sadar akan peran dan tanggungjawabnya yang menyandang status sosial sebagai mahasiswa. Bagi sekelompok mahasiswa yang menyibukkan/menghimpun diri dengan dunia pergerakan yang menyandang gelar simbolis Aktivis, mungkin tidak awan dengan tema eksistensi dan esensi.

Tapi lain halnya dengan mahasiswa yang diberi label mahasiswa Kupu-kupu, dalam artian kuliah pulang yang tidak aktif berorganisasi, mungkin hanya sedikit yang mengetahui sekedar kata dan makna tentang eksistensi dan esensi.

Eksistensi menurut hemat penulis, yakni status yang diperoleh/diraihnya baik prestasi akademik mapupun non akademik. Artinya dimana kita menempati posisi yang hanya sedikit orang melakukannya/memiliki posisi tersebut. Contoh bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi akan mudah terbantu dalam meraih eksistensi dirinya, sehingga populer dikalangan/duniannya bisa karena kecerdasan berfikirnya. Sehingga memunculkan ide serta gagasan yang menarik atau yang aktif di media sosial yang membawa embel-embel akademis baik berupa status, karya personal dan pengalaman pribadi sehingga mudah untuk dikenali.

Contoh-contoh eksistensi ini bisa dengan mudah kita temui di lingkungan kita, misal di level lebih tinggi yakni seorang caleg dari partai politik tertentu dalam mengkampanyekan politik untuk maju di panggu pilpres, pilgug/pilkada atau penceramah dalam menularkan pengetahuan keagamaannya. Ada baiknya kita mengutip penyataan Prof Buya Hamka pendiri Yayasan Al-Azhar Jakarta yang juga sebagai cendikiawan muslim Indonesia yang bisa menjadi bahan untuk renungan dan pengakuan dosa kita, yakni “jika hidup hanya sekedar hidup babi dihutanpun hidup, jika hidup hanya sekedar bekerja kera dihutanpun bekerja”.

Tidak sedikit pula didapati oknum-oknum cerdik yang memanfaatkan organisasi sebagai alat uuntuk mencapai eksistensi pribadi, organaisasi yang mempunyai peran perjuangan yang pada hakikatnya dengan gampang dipelintir untuk mempermudah dalam mencapai eksistensi dengan cara-cara pragmatis, tentu eksistensi ini menjadi boomerang bagi sekelompok mahaisiswa yang menghimpun diri dalam organisasi. Bisa ditemui dari pola-pola yang diperankan yang dengan jelas tidak mencerminkan nilai-nilai ilmiah atau diperuntukan dalam rangka mencari kepuasan diri sendiri dalam mecapai hasrat pribadi bukan kemaslahatan antar sesama.

Tidak cukup hanya mengkritik aktivis yang pragmatis dalam mencapai eksistensi, menjadi keburaman pula bagi mahasiswa non aktivis yang tidak mengetahui atau tidak mempunyai padangan tentang eksistensi, ini menandakan bahwa mahasiswa sekarang sulit dimengerti karena tidak bisa memetakan dirinya yang terlibat aktif dalam perkumpulan intelektual muda tapi tidak mengetahui eksistensi, hal ini menunjukan kemrosotan dialektika mahasiswa.

Inilah kiranya eksistensi yang diperoleh dari cara-cara pragmatis sebetulnya telah mematikan makna terdalam eksistensi tersebut, disisi lain pula ekesistensi yang tidak di pahami menjadi momok yang menandakan miskinnya dunia intelektual di kancah postmoderen yang jelas-jelas ditandai dengan tiga komponen yang melekat, yakni pesatnya kemajuan teknologi, tersebarannya informasi dan meluas/menglobalnya komuniakasi.

Esensi dari mahasiswa menajdi hal yang musti kita pertanyakan dengan keberadannya/eksistensinya apakah dirasa ada tau malah sebaliknya, jika yang didapati tidak ada masihkah pelu mahasiswa ada. Esensi menjadi hal yang selalu berkaitan dengan hakikat, membahas mahasiswa tentu tidak terlepas dari rujukan mereka yang belajar diperguruan tinggi yang disuguhkan dengan teori-teori ilmiah yang bersifat metdologis non mitologis yang belum khalayak umum mendaaptkannya.

Dengan begitu esensi dari adanya mahasiswa yang juga memainkan pernan sebagi agent of chane, control sosial dan sebagai agen penerus bangsa diharap mempunyai esensi sesuai dengan disiplin ilmu yang di konsentrasikan sebagi bentuk pertanggungjawaban keilmuannya.

Eksistensi dan esensi mahasiswa diharap mampu menjadi fenomena yang menunjukan nilai-nilai manusia si pembelejar, tentu ini tidak ada kelonggaran bagi mahasiswa yang memperoleh dengan cara-cara pragmatis, orientasi mahaiswa sejak dini harus dipupuk seidela mungkin karena kelengahan dan pembiaran orientasi menandakan kekacauan berfikir sehingga menimbulkan dampak ketidak-pastian mahaiswa.

(Baqi Maulana Rizqi adalah Ketua Umum Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bumiayu, Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita