Sabtu, 17/06/2017, 10:35:36
Mahasiswa dan Cita-Cita Keadilan Sosial
Oleh: Baqi Maulana Rizqi

Hanya kepercayaan kepada Tuhan sajalah yang akan memberi kedalaman rasa tanggung jawab dan moralitas kepada tindak-tanduk manusia di dunia ini”. (Bung Hatta)

Perubahan sosial terus berlanjut berawal dari lahirnya Kapitalisme sampai pada Postmodernisme, pembahasan akan perubahan menjadi suatu keharusan untuk proses perbaikan berkesinambungan. Perubahan dan perbaikan dua perangkat yang tidak bisa dilepaskan untuk mencapai tujuan bersama, baik dalam organisasi formal atau non-formal.

Lahirnya klas-klas sosial yakni bagian integral dari perubahan-perubahan, pertentangan Proletar pada Borjuis menjadi penanda bahwa sejarah mencatat dalam aktivitas sosial selalu mengalami perubahan. Semangat perlawanan ini lahir dan tumbuh subur karena adanya ketimpangan sosial dan adanya kesenjangan ekonomi. Perubahan-perubahan tidak bisa dilepskan dari globalisasi, berkembangnya teknologi dan pesatnya informasi, positif-negatif menjadi keharusan dari perubahan tersebut.

Semangat kaum pemilik modal untuk mengeksploitasi tenaga buruh membimbing lahirnya paham-paham yang perlawanan dilihat dari karya Marxisme dalam manifesto-komunis, Musa dalam melihat kediktatoran firaun melahirkan pemebrontakan religius dengan pergerakan ketuhidan dan pembebsan monarki-otoriter yang sewenang-wenang, Muhammad yang melahirkan pemberantasan dehumanisasi dengan jalan pembebasan budak serta penegakan ketauhidan yang di sosialisasikan pada rezim jahiliyah.

Pertentangan dan perlawanan berbagai macam bentuknya, namun yang perlu di artikan bahwa dengan hal tersebut cita-cita perbaikan berkesenimbnungan tetap berlanjut, sampai pada titik klimaks dua proklamator bangsa indonesia memproklamirkan kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia di hadapan bangsa-bangsa. Hal yang menarik dari bangsa Indonesia yakni perlawanan dan pertentangan dimotori oleh kaum muda yang progres dan revolusioner.

Presiden terbaru yang dilahirkan dari Pilpres 2014 dengan membawa slogan blusukan dan pro-rakyat, ini menjadi daya tarik untuk menumbuhkan legitimasi masyarakat Indonesia, dengan konsep kepemimpinan sederhana yang ditawarkan serta visi pembanguan dengan nawacita-nya. Pendekatan yang dijalankan dalam kepemimpinan terkoneksi sentralis. Terpusatnya keputusan dan kebijakan sudah mulai di buat regulasi serius yang terbarukan salah satunya adalah TDL (tarif dasar listrik). Kenaikan TDL ini tidak terlalu mendapat koreksi yang tajam dari masyarakat, namun disamping itu efek dari kebijakan TDL ini belum tepat sasaran karena disisi lain penadapatan masyarakat belum sepenunnya tercukupi bahkan dibeberapa daerah sangat terbebani, pembanguan yang dicanangkan adalah baik adanya, namun pembanguanan sebagai priyoritas membawa dampak pada ketegangan-ketegangan di masyarakat khusunya.

“Kita perlu menelaah apa yang diucapkan oleh orang lain dan apa yang mereka tulis dalam literatur-literatur mereka. Jika ada yang selaras dengan kebenaran, maka harus diterima dengan senang hati. Tetapi, jika ada yang bertentangan dengan kebenaran, maka kita harus berhati-hati dan menghindarinya”. (Filosof muslim terkemuka, Ibn Rusyd)

Ada yang berbeda dalam pergerakan mahasiswa pasca-reformasi, dimana organisasi mahasiswa yang berkembang dan bercabang dewasa ini tidak sebanding dengan tingkat manfaat dari keberadan dengan jumlah kuantitasnya, mengacu pada konsep perguruan tinggi sebagai kawah Candradimuka mengalami penurunan kualitas sumber daya mahasiswanya. Rezim Jokowi harus terus dikontrol karena sistem demokrasi mengajari untuk proses perbaikan, mahasiswa yang menempa proses diperguruan tinggi harus kembali pada orientasi keilmuan sehingga terciptanya sumberdaya manusai yang memilki kualifikasi dan komeptensi.

Dengan begitu realisasi Tri-Dharma perguruan tinggi diharapkan optimal serta membuat konsep formulasi yang relevan dengan perubahan sosial dengan tidak meninggalkan aspek teknologi dan informasi, bentuk sinergitas masyarakat ilmiah dengan relitas sosial perlu dibangun dengan baik tujuanya sosial sebagi objek penelitian yang betul-betul membawa efek perubahan utnuk pebaikan. Untuk itu diperlukannya budaya kritis untuk melahirkan dampak yang solutif khsusnya dalam mencapai keadilan sosial.

(Baqi Maulana Rizqi adalah Kader Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bumiayu, Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita