Sabtu, 10/06/2017, 10:21:47
Warung Tarkimah dan Bulan Ramadhan
Oleh: Lanang Setiawan

NIK                 : 33262880464004

Nama             : Tarkimah

JenisKelamin: Perempuan

Agama            : Islam

Pekerjaan      : Pedagang

Kewargaan    : WNI

 

ITU identitas dari jenis kelamin perempuan bernama Tarkimah. Bukan nama sebenarnya tapi nama sakenanya. Yang punya nama persis jangan tersinggung. Karena penggunaan nama diambil asal comot.

Yang dimaksud status “pekerjaan” dalam KTP itu, yaitu bahwa Tarkimah adalah wartegwan. Ia membuka tempat jualannya di rumahnya persis menghadap jalan raya biasa berlalu lalangnya kendaraan umum.

Warteg Tarkimah tergolong laris. Menu masakan yang ditawarkan biasa dinikmati oleh kalangan kelas menengah ke bawah. Dari zaman ia perawan sampai sekarang beranak-pinak dan membuahkan cucu, tetap sama, yaitu “jangan asem” (sayur asam) pecak tempe tauge atau ikan cucut. Sayur sup dan lodeh sekadar sampingan. Ia lebih fokus menghidangkan “jangan asem”.

Kendati demikian, para pelanggan yang datang luar biasa.

Boleh dibilang dari pagi hingga sore, tak pernah putus dari pengunjung yang mampir makan di wartegnya. Ibarat hujan, air yang mencur dari langit sedemikian deras.

Pengunjung warung silih berganti keluar masuk, dari berbagai strata sosial. Dari mulai abang becak, supir taksi, supir angkot, supir truk, supir pribadi, pengendara motor, pegawai swasta, para guru maupun pegawai negeri.

Aku sering mampir di warteg ini untuk menikmati masakan “jangan asem”. Luar biasa penggemar masakan ala Tarkimah. Campur baur berbagai orang dari etnis China, Arab, dan tentunya orang Jawa pribumi kumpul di Warteg Tarkimah. Mereka duduk berderet di satu kursi panjang.

Di meja makan terhidang tempe goreng, tempe mendoan, tahu goreng, mirong, keripik tempe, dan bermacam sejenis ikan laut di dalamnya tersaji pepes teri, pepes ikan, juga pepes tahu. Tidak ketinggalan kudapan pisang goreng, pisang rebus, rempeyek kacang, dan sudah pastinya kerupuk.

Aku bisa memaklumi jika dagangan Tarkimah laris manis. Buat sjian masakan “jangan asem” boleh dibilang biasa saja. Pada umumnya orang membuka warteg dengan sajian “jangan asem”. Yang menjadi lain dan istimewa adalah rasa sambalnya yang luar. Bikin orang ketagiahan dan tergila-gila karena rasanya pedas menyentak. Luged pisan.

Sepanjang aku berkeliling dan menjajal rasa sambal di warteg manapun, belum ada yang bisa menandingi sambal ala Tarkimah yang memang dasyat.

Sambal buatan Tarkimah bukan instan. Tapi langsung diulek oleh tangan Tarkimah yang bergelantungan puluhan gelang emas 24 karat. Jika tangan Tarkimah bergerak-gerak saat mengulek sambal, terdengar bunyi nyaring bergerincing: krincing... krincing... krincing.

Bunyi tersebut lantaran gelang yang dikenakan di tangan putih langsatnya benturan satu di antara gelang yang lain. Ini mengingatkan aku pada ibu-ibu pedesaan yang suka menunjukkan kekayaannya lewat perhiasan gelang emas. Biasnya juga, mereka melengkapi kekayaannya dengan memamerkan gigi palsu yang juga terbuat dari kilau emas 24 karat untuk beberapa gigi.  

Dalam setahun Allah SWT menciptakan bulan dalam 12 bilangan. Dari 12 bilangan itu, Allah hanya meminta 1 bulan buat ibadah saat datangnya bulan Ramadhan. Diwajibkan pada setiap muslim untuk menanggalkan segala aktifitas makan dan minum dari imsyak hingga surupnya matahari. Intinya, kita full buat ibadah kepada Sang Khaliq.

Amat disayangkan, kehadiran bulan Ramadhan tidak dimanfaatkan sebaik-baik mungkin oleh Tarkimah. Ia tetap membuka dagangan wartegnya tanpa memperdulikan orang-orang mukmin yang tengah menjalankan kewajiban berpuasa.

Dalam perkara ini, aku tidak akan membahas soal dosa. Lataran, sudah pastinya ia sedang menimbun-nimbun dosa tiada tara. Akan disiapkan api neraka jahanam baginya nanti saat usia dikandung badannya tanggal dan ia harus kembali menghadap Yang Maha Kuasa.

Di sini, akan sedikit aku masalahkan tentang kerugian yang didapat Tarkimah. Pertama, ia telah kehilangan masa pertaubatan untuk merengkuh berbilang pahala yang disediakan Allah Ta’ala. Ia akan kehilangan kesempatan datangnya bulan puasa, yang belum tentu tahun berikutnya menjumpai kehadiran bulan puasa.

Kedua, upaya memperoleh kesempatan meremajaan sel-sel baru di dalam tubuhnya yang aus atau yang rusak, hilang percuma. Racun-racun yang mengendap pada tubuhnya selama sebelas bulan, tidak sempat lagi ia bersihkan, hingga kesehatan tubuhnya menjadi prima. Ketiga, ini yang amat penting bagi orang bernama Tarkimah. Dari segi pandang religi, ia adalah orang yang sangat rugi, karena mengabaikan nilai ibadah berpuasa. Apa pasal? Karena di bulan puasa, segala pahala digelar berlipat-lipat. Bahkan seperti yang pernah aku utarakan pada kesempatan yang lain, bahwa milyaran bintang gemintang, bulan, ikan-ikan di lautan dan di sungai-sungai bahkan burung-burung di angkasa dan hutan-hutan, semua memanjatkan pengampunan buat mereka yang sedang berpuasa.

Peristiwa ini terjadi ketika berlangsungnya dianlog antara Iblis dengan Nabi Muhammad SAW, sewaktu Iblis diperinthkan Allah untuk membongkar kelicikannya di hadapan Rassul kita. Maka, betapa istimewanya kehadiran bulan Ramadhan, karena Malaikan dan Tuhan Allah pun turut bertasbih dikala kita melaksanakan ibadah sahur di malam merangkak ke pangkal pagi.

Ah! Betapa, kasihannya orang bernama Tarkimah, yang hidupnya cuma mengejar keduniawian tanpa mempedulikan akherat. Inilah ciri orang yang mendholimi dirinya dan ciri hamba yang mendustai nikmat Tuhan yang tak berbilang!

(Lanang Setiawan adalah tokoh sastra Tegalan, penerima Hadiah Sastra Rancage untuk kategori pengembang bahasa dan sastra Jawa dialek Tegal. Dia telah menerbitkan beberapa buku, novel dan album lagu berbahasa Tegal. Tinggal di Kelurahan Slerok, Kota Tegal)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita