Senin, 29/05/2017, 11:28:31
Menghadapi Petahana dan Orang Asing
Oleh: Lanang Setiawan

KALAU ini terjadi. Kita tidak perlu risau. Pesta demokrasi tidak membatasi seseorang untuk maju dalam petarungan itu. Asal punya persyaratan administrasi dan bukan abal-abal, waras dan tidak somplak, pintu terbuka lebar-lebar buat para calon.

Tampilnya petahana dan munculnya calon asing dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada), jangan diartikan untuk merebut sebuah kota atau daerah. Tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

Banyak contoh petahana tumbang. Di Tegal, di Brebes, dan di daerah lain mengalami nasib mengenaskan. Di sejumlah kota besar, petahana gubernur pun gugur. Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Gubernur DKI Fauzi Wibowo, Gubernur  Banten Rano Karno, dan yang baru lalu adalah Gubernur DKI Ahok tersingkir dari perhelatan pilgub putaran kedua.

Di Tegal, naga-naganya semua balon pilwalkot bakal berhadapan dengan petahana. Siapa takut? Silakah berlaga. Ini medan terbuka perebutan bagi siapapun. Tidak ada alasan reprensif menampik petahana, orang asing, atau putra daerah. Paramater utama adalah, kesiapan dan kemampuan mereka mengikuti tahapan-tahapan pilwalkot. Ini yang prinsip dan urgen.

Silakan petahana berlaga. Mengulang berebut tampuk kekuasaan. Bila ia mampu membuktikan keberpihakan pada rakyat, ia bakal menang. Sebaliknya jika ia tidak peka terhadap penderitaan rakyat. Bila ia tidak memiliki kesalehan sosial, bila ia hanya mengedepankan sikap arogansi, tamak, kabongan, dholim, tidak amanah, sok kuasa, dan hanya berbaik-baik terhadap publik di jelang pilkada, yakinlah bahwa ia sedang menghancurkan eksistensinya sendiri sekaligus menggali lubang kuburnya. Maka, sia-sialah pencintraannya yang ia lakukan secara massif dan viral.

Bagi kandidat yang berasal dari putra daerah. Hindarilah perspektif negatif terhadap masyarakat bila mereka hanya bersikap diam terhadap petahana yang durjana, dholim, dan angas. Yakinlah bahwa sikap diam bukan berarti mereka tidak sedang melakukan perlawanan.

Dalam sebuah pergerakan, kita mengenal perlawanan senyap. Dan ini justru sebuah perlawanan sangat membahayakan. Seperti yang digambarkan Penyair Wiji Thukul dalam sajaknya berjudul "Peringatan" *//....bila rakyat tidak berani* *mengeluh/itu artinya sudah gawat/dan bila* *omongan penguasa/tidak boleh dibantah* *kebenaran pasti* *terancam//apabila* *usul ditolak tanpa ditimbang/suara dibungkam kritik* *dilarang tanpa alasan/dituduh subversif dan* *mengganggu keamanan/maka* *hanya ada satu kata: lawan!//*

Perlawanan rakyat tentu beda dengan perlawanan yang dilakukan para demonstran. Biasanya, mereka  melakukan perlawanan dengan aksi turun ke jalan. Tapi tidak bagi rakyat kebanyakan. Mereka punya cara jitu buat menghukum siapa yang berbuat jahat, seleh, curang, dan semena-mena. Aksi mereka malah cenderung senyap. Tapi tiba-tiba petahana terkapar ketika rakyat sudah menghukumnya di bilik tobong suara untuk dengan tegas tidak memilihnya kedua kali. Lebih sakit kan?

Sebagai orang Jawa, kita punya ujaran warisan para leluhur. Oleh mereka, kita diajarkan untuk tidak kagetan dan gumunan pada sesuatu yang muncul dadakan. Mengahadapi hal-hal yang baru, bersikaplah tenang dan mengindari ketakutan berlebih. Ujaran bijak leluhur yang kita miliki, seharusnya malah kita jadikan tolak bala sekaligus sebagai pembanding manakala daerah kita kedatangan orang asing.

Sejauh mana putra daerah memiliki empati terhadap daerahnya. Punya peduli dan bekerja keras. Bukan semata untuk kepentingan pribadi atau segelintir golongan, melainkan buat kemasyalahatan rakyat. Tak kalah penting, ia mengerti dan mendalami bahwa jabatan adalah amanah bukan amarah.

Kehadiran orang asing janganlah bikin kita pusing. Tidak akan pudar kilau berlian berpendar-pendar, sekalipun diblesekkan di kubangan lumpur.

Engkaukah berlian itu? Inilah pemimpin yang kami cari untuk menjadi panutan di Kota Tegal!

(Lanang Setiawan adalah tokoh sastra Tegalan, penerima Hadiah Sastra Rancage untuk kategori pengembang bahasa dan sastra Jawa dialek Tegal. Dia telah menerbitkan beberapa buku, novel dan album lagu berbahasa Tegal. Tinggal di Kelurahan Slerok, Kota Tegal)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita