Senin, 09/01/2017, 03:15:04
Harga Cabai di Bumiayu Tembus Rp 100 Ribu per Kg
Laporan Zaenal Muttaqin

Pedagan cabai di Pasar Bumiayu sedang memilah-milah cabainya yang saat ini harganya melambung (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Harga cabai rawit merah di tingkat pedagang Pasar Induk Bumiayu, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, pada pekan terakhir ini menembus angka Rp 100 ribu per kilogram.

"Cabai rawit merah terus naik harganya, kalau sebelumnya masih sekitar Rp 80 ribu per kilogram. Namun hari ini harganya sudah Rp 100 ribu per kilogram," kata Kepala Pasar Induk Bumiayu, Hari Sudarsono, Senin 09 Januarin 2017.

Menurut dia, harga cabai rawit merah yang menembus angka Rp 100 ribu per kilogram (kg) sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir. Kenaikan harga cabai ini menyusul karena berkurangnya pasokan ke pedagang.

Selain cabai rawit merah, dia mengatakan harga cabai cabai rawit hijau pekan ini melonjak drastis, dari yang sebelumnya Rp 50 ribu per kilogram (kg), naik menjadi Rp 80 ribu per kg. Cabai merah besar harganya Rp 40 ribu per kg dan cabai merah keriting harganya sekrang Rp 45 ribu per kg.

"Karena harga cabai naik semua, para pedagan juga mengeluh pembelinya menjadi menurun hingga separuhnya atau 50 persen," kata Hari.

Sementara itu, Sulistiyo (48) pedagang cabai di Pasar Induk Bumiayu mengaku, sebelumnya rata-rata pembelian cabai mencapai 30 kg. Namun sejak harga naik, maka pembelian cabai menurun hingga menjadi 15 kg saja.

"Sekarang pembeli menurun, biasanya mebeli satu kg sekarang hanya membeli 1/4 kg sehingga penjualan juga menurun," katanya.

Sementara itu pula, salah satu pembeli, Suharti mengatakan karena keluarganya mempunyai kegemaran makan masakan pedas, maka dia paling tidak membeli seperempat kilogram cabai rawit merah setiap kali ke pasar tradisional tersebut.

"Sekarang diakali dengan membeli campur-campur dan kurang dari seperempat kilogram. Yang penting terasa pedas untuk dibuat sambal," katanya.

Informasi yang diperoleh, saat ini pasokan cabai ke Pasar induk Bumiayu hanya dari daerah Wonosobo, sementara dari daerah lain relatif tidak ada. Sedikitnya pasokan tersebut memicu harga menjadi melambung.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita