Kamis, 29/12/2016, 09:07:10
Sulistya Yusuf, Penyair Muda dari Pucuk Gunung
Laporan Takwo Heriyanto

Sulistya Yusuf

PanturaNews (Brebes) - Parasnya begitu cantik namun mungil, sekilas menggambarkan sebagai anak gunung yang jauh dari peradaban kota. Namun demikian, puisi-puisinya justru menghiasi dunia maya, sehingga kerap menjadi bacaan segar pembaca medsos.

Tidak terbayangkan, kalau penulisnya berada di puncak Gunung Slamet, dari Desa Mendala, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sekitar 75 kilometer dari Kota Brebes. Dia adalah Sulistya Yusuf.

Semenjak SMP, Sulistya rajin menulis puisi untuk mengungkapkan gelincang hatinya. Kegelisahan kreativitas anak gunung ini, ia tuangkan di buku tulisnya. Ketika ada permintaan dari gurunya untuk mengisi ruang kosong di majalah dinding (mading), Sulis dengan bangga menyerahkannya kepada gurunya.

“Ini Bu, puisi saya. Bagus gak, Bu?,” kenang Sulis ketika kali pertama puisinya di publikasikan lewat mading saat menceritakan pengamalamannya, di sela pekan pentas seni Dewan Kesenian Brebes di Jalan MT Haryono Brebes, Rabu 28 Desember 2016.

Sulis sempat bosan dengan puisi, karena karya-karyanya tidak ada yang membacanya akibat tidak ada media untuk menyalurkannya. Begitu buming Medsos, dia kembali bergairah dengan memanfaatkan Facebook sebagai lahan penyaluran hoby menulis.

“Seluruh puisi saya, saya share ke FB, yang penting saya puas karena pasti dibaca netizen,” ungkap wanita kelahiran Brebes 24 Agustus 1991.

Istri dari Ahmad Muzaki ini, akhirnya ekspresi jiwanya tersalurkan sehingga lebih dari 500 judul puisi torehkan. Dari karya sebanyak itu, belum juga diterbitkan secara solo. Namun digabung dengan penyair lain dalam beberapa antologi puisi. Seperti antologi puisi Klapa Ijo, Brebes (2016). Antologi Jalan Bersama, Jakarta (2014), Antologi Tragedi MH370, Malaysia (2014).

“Saya lagi bikin novel juga, mudah-mudahan bisa cepet rampung,” tutur ibu dari M Khawarizmi Azzaki.

Sulis, dalam membuat puisi sering berkiblat ke tulisan karya Remy Silado, Jalaludin Rachmat, Timur Sinar Suprabana.

Sebagai petugas asuransi, Sulis ‘nlateni’ sisa waktu malam untuk menulis puisi. Di jalan Curug Putri, Desa Mendala, Kecamatan Sirampog, Brebes dia takzim dengan note booknya merangkai kata demi kata hingga berbait-bait puisi.

Untuk menambah wawasan, Sulis didampingi sang suami sering menghadiri lomba baca puisi di berbagai tempat. Termasuk, silaturahim ke beberapa penyair untuk mengasah ketrampilannya, sekaligus minta uwur dan sembur tentang dunia gelincang hati.


 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita