Selasa, 22/11/2016, 08:18:17
Bangsa Kita Bukan Bangsa Hewan
Oleh: Baqi Maulana Rizqi

Manusia dibekali anugerah akal yang dapat digunakan untuk berpikir. Inilah salah satu karunia yang harus kita syukuri, karena mampu membedakan kita dari makhluk yang lain, seperti hewan yang hanya mengandalkan instingnya untuk hidup sehingga segala carapun ditempuh agar dapat bertahan.

Lain halnya dengan manusia, yang juga dikarunia hati nurani. Dua karunia ini yang mampu menghantarkan manusia dapat memahami tujuan hidup, serta cara yang sesuai dengan menggunakan dua karunia istimewa tersebut.

Seperti yang dikatakan ulama besar, Buya Hamka; Kalau manusia hidup cuma sekadar hidup, babi pun bisa melakukannya, Artinya kalau hidup cuma untuk makan dan tidur binatang pun bisa melakukannya. Untuk itulah manusia sejatinya memiliki derajat kehidupan yang berbeda dengan binatang.

Perdebatan hal yang manusiawi karena flashback sejarah banyak tedapat proses pertukaran gagasan atau pikiran yang diperankan oleh para pendiri bangsa

Rumusan Pancasila 1 Juni 1945 terdapat dalam apa yang disebut Piagam Jakarta. Pada 18 Agustus 1945 setelah Proklamasi 17 Agustus, Piagam Jakarta dijadikan Pembukaan UUD 45 dan rumusan Pancasila berubah, yaitu sila pertama. Dalam Piagam Jakarta sila pertama dari dasar negara berbunyi, "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya." Namun, pada rumusan 18 Agustus 1945 berubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa".

Piagam Jakarta adalah nama yang diberikan Mr Muhammad Yamin atas sebuah kesepakatan yang berisi tentang teks tertulis yang isinya memuat rumusan dari hukum dasar negara Republik Indonesia. Piagam ini dirumuskan oleh Panitia Sembilan (Panitia Kecil BPUPKI) pada tanggal 22 Juni 1945 di rumah Bung Karno, Piagam ini dibuat setelah melalui rapat maraton yang berlangsung selama sepekan, mulai 10-16 Juli 1945.

Untuk mencapai kesepakatan sidang berlangsung alot dan penuh adu argumen yang melibatkan dua kelompok kebangsaan yang saat itu sangat berpengaruh, yakni kelompok nasionalis dan kelompok Islam. Dalam piagam ini tertuang arah dan tujuan bernegera serta memuat pula lima rumusan dasar negara (Pancasila).

Ini menandakan bahwa diskusi menjadi sarana untuk share of idea dalam mencapai proses kesepkatan bersama, proses yang dapatkan dari adanya musyawarah mufakat tentu akan berdampak objektif karena ada tahapan pertukaran ide mauapun gagasan. Salah satu bentuk jihad yang diajarkan rasululah adalah melawan hawa nafsu.

Memerangi hawa nafsu disebut jihad yang besar karena musih yang diperangi tersembunyi di dalam diri mausia berupa keinginan kepada sesuatu yang memberikan kesenangan kepada jasmani, nafsu yang diperangi adalah nafsu yang rendah, nafsu yang membawa kepada kejahatan manusia, baik di dalam ucapan, perbuatan,maupun hatinya.

Dari dua pembahasan diatas antara proses debat sampai dengan jihad melawan hawa nafsu ada korelasi yang dapat di bentuk menjadi pengertian dasar bahwa manusia sebagai makhluk yang mempunyai keistimewaan lebih dari makhluk yang lain, diharap mampu cerdas dalam memahami perbedaan yang tak jarang mewarnai kehidupan berbangsa serta peran adanya hati nurani terus dioptimalkan untuk mencapai kesepakatan bersama dalam suatu proses diskusi (share of  idea) dan tidak mendahlukan nafsu belaka yang dapat mengotori proses.

Karena sejatinya manusia itu berbeda dengan hewan jadi tidak seharsunya memakai cara hewan dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

(Baqi Maulana Rizqi adalah Ketua Umum Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bumiayu, Mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah)



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita