Jumat, 18/11/2016, 02:16:55
Harga Tomat dan Kol naik, Bawang Daun Merosot
Laporan Zaenal Muttaqin

Petani sayur sedang menunjukkan tanaman tomatnya yang ditanamnya (Foto: Zaenal Muttaqin)

PanturaNews (Brebes) - Harga sayur mayur di sentra penghasil sayur Desa Batursari, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Twngah, fluktuatif alias tidak stabil. Ini menyusul cuaca yang masih tak menentu di musim penghujan kali ini.

"Harganya sekarang tidak menentu, beberapa sayuran di tingkat petani harganya menurun dalam minggu ini tapi ada juga yang naik," ujar Sumedi (34), petani sayur Desa Batursari kepada PanturaNews.Com, Jumat 18 November 2016.

Sayuran yang mengalami penurunan harga diantaranya, bawang daun dari Rp 12 ribu per kilogram (Kg) turun drastis menjadi Rp 7500 per Kg. Kentang dari Rp 8000 per Kg turun menjadi Rp 6000 per Kg, dan wortel dari Rp 2000 turun menjadi Rp 1500 per Kg.

"Bawang daun turun drastis hampir 50 persen dari harga semula, untuk kentang dan wortel turun antara Rp 2000 dan wortel turun Rp 500 per Kg," kata Sumedi.

Penurunan harga sayuran tersebut karena banyak petani yang panen di beberapa daerah sentra penghasil sayur lainnya. Meski begitu permintaan tetp stabil, hanya harganya yang turun.

"Kalau permintaan tetap banyak cuma harganya yang turun," ucap Sumedi.

Sementara untuk harga tomat dan kol bulat mengalami kenaikan. Tomat yang semula Rp 3000 per Kg, kini naik menjadi Rp 5000 per Kg. Begitu pula kol, sebelumnya sempat anjlog kini harganya kembali membaik menjadi Rp Rp 3000 per Kg.

"Harga kol waktu anjlok hanya Rp 500 per Kg, sekarang sudah membaik menjadi Rp 3000 per Kg," ungkap Sumedi.

Diungkapkan pula, kondisi cuaca tidak menentu bahkan terkadang terlalu ekstrim, seperti kelembaban berdampak pada kualitas hasil panen. Beberapa sayuran, diantaranya bawang daun hasilnya kurang maksimal.

"Cuacanya tidak menentu, kadang sering hujan sehingga tanaman kurang bagus," tutur Sumedi.

Sementara itu, Camat Sirampog, Munaedi SH mengatakan, dari pantauan dan laporan pemerintah desa yang desanya menjadi penghasil sayur diantaranya Desa Batursari, Desa Dawuhan dan Desa Igirklanceng, penurunan harga sayuran tidak berpengaruh pada kesejahteraan petani.

"Harga memang ada yang turun, tapi masih ada keuntungan jadi tidak sampai merugi, hanya untungnya tidak terlalu banyak," katanya.

Munaedi berharap, harga sayur tidak mengalami penurunan terus menerus karena bisa berakibat kesejahteraan petani juga menurun. Karenanya diharapkan petani dapat mensiasati pola tanamnya dengan memperhatikan musim dan kondisi pasar.

"Petani biasanya lebih tahu cara mensiasatinya agar tidak merugi atau tetap untung meski harganya fluktuatif," tandas Munaedi.



 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.

Komentar Berita